Pages

Wednesday, August 19, 2009

Catatan Yang Tertinggal - Perjalanan Ke Mauritius


Ditulis untuk Milis Keluarga Besar-Alumni Attaqwa, Bekasi

Dear Friends,

Terima kasih atas laporan pandangan mata atas prosesi acara Haul Almaghfurlah KH. Noer Alie. Mohon maaf saya tidak bisa ikutan gabung. Kemarin, selama sehari penuh saya harus sport jantung mengurus tiket dan visa ke Mauritius. (Thanks to unlimited access to internet) Karena terlambat mengurus visa, saya harus rela menunggu teman-teman sekretariat IFSB di Kuala Lumpur untuk menguruskannya dalam bentuk on-arrival visa. Visa itu kemudian tiba via email, tepat ketika saya sedang shalat Jumat. Tinggal sekarang tiketnya.

Karena baru diorder untuk diissue pada jam 13.00, dan komputer di Air Mauritius lagi trouble, electronic ticket itu baru saya terima via email, tepat ketika saya sedang shalat maghrib. Setelah ngeprint keduanya, saya ngebut pulang, supaya keburu ngejemput anak yang kursus di LIA Kalimalang. Dan saya tiba disana pas dia keluar dari gedung kursus itu. What a close!





Saya teringat ada acara haul malam ini (Jumat 16 Mei 2009) di Ujungmalang, karena reminder tentang hal itu di HP saya berbunyi terus sejak pagi, dan selalu saya snooze off. Selain itu saya juga telah dihubungi oleh seseorang yang bernama Sodikin dari Kedaung, empat hari yang lalu, tentang acara ini. Tapi rasa letih yang menyiksa, ditambah belum ada persiapan untuk berangkat besok pagi (flight saya SQ jam 09.20) membuat saya harus tinggal di rumah. Lagipula jam sudah menunjukkan jam 08.50 malam.

Rutinitas haul memang membuat kita ingat kembali sepak terjang perjuangan Almaghfurlah. Kini semakin banyak murid dan sahabatnya yang ikut menyusul beliau ke alam baka. Oleh karena itu, acara haul seperti ini mutlak diperlukan. Tapi yang lebih penting adalah sejauhmana kita akan meninggalkan jejak kenangan kita tentang beliau sebagai warisan yang akan kita berikan kepada generasi berikutnya. Mudah2an rencana penulisan buku tentang beliau tetap berjalan terus tanpa hambatan. (Maaf saya harus stop dulu. Panggilan untuk boarding sudah dua kali dilakukan. Saya masih di Harry's garden, Terminal 1 Changi airport. Jaraknya ke boarding gate bisa 15 menit.Ditepi koridor banyak duduk-duduk calon TKI wanita yang sedang menunggu boarding flight menuju negara2 Timur Tengah. Wajah-wajah lugu mereka kontras dengan kecanggihan teknologi di bandara Changi. Mereka tampak bingung dan lelah. Padahal merekalah pahlawan devisa kita.)

(Upload through Singtel-Changi airport hotspot )

***

Terminal 2 Airport Sepang KL. Menunggu boarding ke Air Mauritius.

Tak ada yang istimewa disini kecuali hiruk pikuk penumpang dan toko yang berderet dalam kemegahan airport yang serba 'wireless steel'. Boleh dikata agak membosankan, karena selama 2008 saya hampir tiap bulan kesini atas undangan Securities Commission, bapepamnya Malaysia. Orang boleh tertarik dengan warna warni barang yang dipamerkan di koridor-koridor airport, tapi buat kita barang2 itu banyak di dapati di supermarket di Bekasi. Bisa jadi barang2 itu diproduksi di Cikarang, tempat raksasa mainan seperti Mattel berlokasi. (Saya teringat pengalaman beli kaos bola Liverpool di Leicester, Inggris tahun 2002. Maksudnya buat oleh2 untuk anak saya yang ngefans Michael Owen saat itu. Waktu mau bayar, saya cek ulang kaos itu dan saya dapati tulisan "Made in Indonesia". Kata teman yang nganter, "ngapain jauh-jauh datang cuma buat beli kaos bikinan Cikarang?").

Buat yang menganggap travel ke luar negeri itu enak, I tell you my friend, perjalanan ke luar negeri itu capek dan melelahkan. Apalagi yang banyak transitnya. Perjalanan ke "Li'l Maurice" ini cuma 2 kali transit, di airport yang boleh dikata terbaik di dunia. Tapi saya sudah "fed-up" karena harus melalui 3 kali cek-in dan 3 kali melalui mesin detektor yang, mau tidak mau, harus melepaskan semua barang logam dan barang yang memiliki pemancar, seperti hp, dari tubuh kita. Belum lagi antrinya yang bikin pegal kedua kaki. Untungnya di Maritius saya akan tinggal seminggu. Saya pernah mengalami perjalanan yang lebih melelahkan, yaitu menghadiri public expose sharia standard AAOIFI di Bahrain tahun 2008. Acaranya hanya satu hari, tapi perjalanan pergi dan pulangnya masing-masing 2 hari sehingga total 4 hari! Anyway. Saya tetap mendoakan teman2 punya kesempatan seperti saya, bahkan lebih, supaya punya pengalaman mancanegara. Saya yakin, karena-seperti kata Sire- anak2 Attaqwa punya bekal kuat, seperti keingintahuan, otodidak dan mental baja. Semoga...

(Uploaded by Maxis - Sepang Airport, terminal 2 )

***

Saya mendarat di Sir Seewoosagur Ramgoolam International Airport of Mauritius jam 19.30 waktu setempat, atau jam setengah sebelas malam WIB. Tanpa saya sadari, teman2 IFSB Malaysia pun ternyata ikut pesawat yang sama. Mereka sudah menunggu di koridor menuju arrival hall. Sebenarnya saya sudah bisa memperkirakan hal itu, karena pesawat Air Mauritius berikutnya dari KL hanya ada pada hari Senin. Padahal hari itu seminar pasar modal Islam sudah dimulai. Karena kami termasuk rombongan yang diundang bank sentral Mauritius, perlakuan imigrasi terhadap kamipun termasuk istimewa. Kami diberikan jalur khusus, berbeda dengan penumpang lainnya, alias jalur cepat. (Terkadang saya harus terima kenyataan ini, bahwa money has power more than just as medium of exchange. It can buy everything, not only commodity).

Jalan dari Bel Air (daerah airport) ke Port Louis (ibukota Mauritius) memerlukan waktu 1 jam. Jalannya tidak sebagus tol di Jakarta, tapi supir yang mengantar kami ngebut, seperti gaya para supir angkot di Bekasi,. Celakanya tidak ada satupun dari kami yang bisa menegurnya, karena dia hanya bisa parler Francais. Bahasa Perancis merupakan bahasa ibu (lingua franca) di Mauritius, meskipun 60 persen penduduk negara-pulau ini keturunan India. Supir kami hanya bisa ngomong Inggris patah-patah (kebalikan dari saya). Dalam hati nyesel juga nggak meneruskan kursus di L'alliance Francais Islamabad dulu, padahal sudah lulus level 3. Mungkin kalau sampai level 6 sudah gape ngomong bahasanya om Mitterand itu.

Kami ditempatkan di Le Meridien hotel, hotel terbaik di Mauritius. Levelnya sama dengan Sheraton Bali. Menghadap laut biru, dengan hamparan pasir putih di tepinya. Sangat indah. Tapi kata kolega di Financial Service Committee, kita datang bukan pada waktu yang tepat. Bulan Mei ini di Mauritius lagi autumn, musim gugur, dan sebentar lagi winter. Makanya di pinggir laut tidak ada orang yang berenang karena dingin.

***

Ada hikmahnya kami datang awal ke pulau ini. Hari pertama di Mauritius tidak ada jadwal rapat, jadi saya berniat mau melakukan sedikit revisi terhadap paper saya yang akan di presentasikan hari Rabu. Tapi teman2 Malaysia rupanya sudah gatal ingin keliling negara-pulau ini. Kami pun sewa kereta (mobil) dan berkeliling Grand Baie. Mauritius di hari minggu di luar dugaan saya. Saya fikir pulau ini ramai pengunjung, ternyata tidak juga. Beberapa tempat resort yang kami kunjungi sepi dari pengunjung. Tapi saya sangat menikmatinya. Semua tempat yang kami datangi ditata dengan apik. Mulai dari tempat parkir, "pavement" untuk jalan kaki, batas-batas dimana pengunjung boleh berdiri, maupun tempat orang boleh jualan. Semuanya bersih dan rapih. Saya jadi teringat Kebun Binatang Ragunan dan Kebun Raya Bogor yang selalu kotor dan kumuh oleh sampah bekas makanan dan minuman, serta para pedagang jalanan yang bikin rusak pemandangan.

Akhirnya kami ke Grand Bay. Ini adalah Kuta-nya Mauritius. Sama seperti hotel yang saya tempati, ia juga berada di tepi pantai. Bedanya ia terletak di cekungan, yang membuatnya disebut bay (teluk). Cocok untuk berbagai acara pantai. Disini berbagai hotel, kafe dan tempat belanja bertebaran. Disini baru terasa hiruk pikuk tempat wisata. Ada yang cuma jalan-jalan, ada juga yang nenteng papan seluncur. Kalau tidak ingat jadwal yang ketat, maulah rasanya ikutan para-diving. Itu lho, terbang pakai parasut yang ditarik pakai boat. Giliran waktu makan tiba, kita semua mulai “memasang kuda-kuda pertahanan.” Mauritius adalah negara yang berpenduduk 2 juta orang dengan 83% non muslim. Pasti makanannya tidak halal, pikir saya. Hal ini diamini oleh teman-teman dari Malaysia. Tapi driver yang mengantar kita dengan enteng nyeletuk, “tenang saja, semua makanan yang dijual di Mauritius ini halal.” Koq bisa? “Peraturannya memang begitu” katanya. Ah, apa iya?

Pertanyaan itu terjawab ketika kami mengikuti “Grand Opening” acara Islamic Capital Market Seminar esok malamnya. Menteri Keuangan yang mewakili Perdana Menteri, sebelum membuka secara resmi, menjelaskan bahwa menjelang kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1968, sekelompok Muslim mengajukan syarat kepada pemerintah bahwa mereka hanya mau bergabung dengan negara yang akan merdeka ini jika makanan yang dijual di negara ini sesuai dengan syariah yang mereka yakini. Seewoosagur Ramgoolam, perdana menteri pertama setelah Mauritius lepas dari penjajahan Inggris, menerima syarat itu dan sejak saat itu makanan yang dijual kepada publik harus mengikuti aturan makanan halal. Apabila ada orang yang ingin makanan non halal, maka ia harus memesannya, dan warung makanannya menyediakan tempat masak yang terpisah. Saya sendiri sempat menyaksikan hal itu. Sekelompok turis Perancis yang makan di restoran yang sama dengan kami harus menunggu 45 menit karena memesan beacon dan wine. Sambil memohon maaf, penjaga restoran menjelaskan bahwa ia harus mengambil makanan itu dari tempat lain.

***

Rapat penyusunan standar pengaturan untuk Tatakelola syariah (Sharia governance) untuk Lembaga Keuangan Islam (Islamic Financial Institutions) di IFSB bukan yang pertama kali dilakukan. Saya sudah mengikutinya sejak pertama dilakukan di Kuala Lumpur, lalu di Basel (2007), Maldives, dan Bali (2008). Tapi baru kali ini saya ikuti dalam dua bahasa. Gara-garanya ada anggota dari Kuwait yang digantikan temannya dan penggantinya hanya bisa bahasa Arab dan Perancis. Akhirnya pertemuan dilaksanakan dalam bahasa Inggris dan Arab. Karena saya satu-satunya peserta yang bisa bahasa Arab – Inggris (selain Sekjen IFSB, Rifaat A. Karim, orang Sudan), maka saya yang “ketempuan” jadi penterjemah gratis semua pembicaraan dalam pertemuan itu kepada si Arab. (Dalam hati saya bersyukur saya sudah belajar dua bahasa ini sejak mondok di Attaqwa, Ujungharapan dan di IIU Islamabad, Pakistan) Persoalan terbesar dalam penyusunan materi Tatakelola Syariah bagi lembaga keuangan Islam ada pada pengaturan Dewan Syariah (Sharia Board) yang bias dengan kondisi yang ada sekarang. Pada saat ini Dewan Syariah di lembaga keuangan umumnya para ulama terkenal tingkat nasional bahkan internasional, sehingga pengaturan Dewan Syariah terasa sangat hati-hati dan ewuh pakewuh. Selainnya oke-oke saja, termasuk larangan permintaan fatwa tentang produk dan transaksi keuangan selain kepada otoritas domestik. (Maaf bung Sire, alumni kita belum banyak berkiprah disini. Padahal pondok kita dulu dipimpin seorang ulama yang “tiada tandingannya” dalam ilmu fiqih, selain ilmu politik dan mantiq. Saya jadi ingin nulis pengalaman ikut mengaji pada beliau malam mingguan yang membahas kitab Bulughul Maram dari berbagai mazhab fiqih).

Selain jadi peserta working group penyusunan “Sharia Governance for Islamic Financial Institution” saya juga ikut jadi peserta working group untuk penyusunan “Business Conduct for islamic Financial Institution. Meskipun standar dan pembahasannya ditulis dalam bahasa Inggris, saya jadi ingat fiqih muamalah tentang akhlak para pedagang di pasar yang tidak boleh ghrarar, maysir, riba, dharar, idkhar, zhalim dan lain-lain. Buat teman-teman yang mau lihat standar-standar itu, anda bisa kunjungi situs IFSB http://www.ifsb.org/

*****

Saya tengah duduk sarapan di restoran hotel Meridien yang meskipun mewah tapi didesain dari kayu. Saya memilih tempat di luar menghadap ke laut. Cuaca bulan Mei di Mauritius sejuk, karena mendekati musim dingin. Terbalik dengan belahan bumi utara yang mungkin lagi panas-panasnya. Beberapa ekor burung gelatik terbang hilir mudik di sekitar balkoni, dan sesekali hinggap di lantai dan pagar pembatas, mencari makanan yang mungkin tersisa. Bahkan diantaranya ada yang berani mampir di ujung meja yang sedang saya gunakan untuk makan. Saya memberinya sepotong semangka. Burung itu terbang sebentar, tapi kemudian kembali. Diikuti teman-temannya, ia menyantap potongan-potongan semangka yang saya berikan. (Saya jadi teringat ketika masih kelas 1 SMP. Setiap pulang dari shalat Subuh di masjid dan membuka jendela kamar, suara kicau burung yang hinggap di pohon-pohon bambu samping rumah menyambut saya dengan ramainya. Kini kicau burung itu sudah tidak pernah ada lagi sejak kampung saya dijadikan daerah industri pada tahun 1990an).

Kualitas lingkungan hidup di Mauritius memang dijaga ketat. Mereka mungkin belajar dari pengalaman penjajah Portugis yang datang di akhir abad 16 dan mengakibatkan habitat burung “Dodo” punah. Burung purba yang hanya terdapat di Mauritius, dan tidak ada di belahan dunia lainnya ini harus menghilang karena selera rakus manusia akan eksplorasi sumber daya alam untuk produksi dan tempat tinggal yang berlebihan. Kini dunia menghadapi ancaman akan kerusakan lingkungan yang membuatnya, menurut ramalan WWF, hanya bisa bertahan dalam jangka waktu 20 tahun saja. Mungkinkah kiamat akan datang lebih cepat? Saya berfikir untuk bisa berkunjung ke Wild Life Reservation (Taman Marga Satwa) di Afrika Selatan. Tapi untuk pergi ke sana, kita memerlukan visa khusus, dan perjalanan ke sana memerlukan penerbangan 4 jam. Itu artinya harus menginap, dan tentu perlu biaya tambahan. Padahal mungkin di sana ada komunitas Meerkat Manor, binatang kecil yang diangkat menjadi tokoh Timon dalam film animasi Lion King 1 1/2 atau komunitas yang mendiami pulau yang secara tidak sengaja dikunjungi oleh Alex (singa) Marty (zebra), Gloria (badak) dan Melman (jerapah) dalam film animasi Madagaskar

****

Hari keempat saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi pembicara pada Seminar on Islamic Capital Market, yang mengingatkan saya pada acara Muhadhdoroh waktu di pondok. Sejak di Attaqwa saya memang menyukai pilihan berpidato dalam bahasa Inggris, karena membuat saya merasa lebih keren: seorang santri yang bisa cas-cis-cus dalam bahasa yang diakui dunia Internasional, selain bahasa Arab tentunya. Saya tidak tahu, apakah tradisi yang bagus itu diteruskan hingga sekarang.

Setelah jadi pembicara nanti sore saya harus terus packing, karena pesawat yang membawa saya kembali ke Jakarta hanya ada malam ini, jam 23.00. Jika tidak, saya harus menunggu 3 hari lagi. Saya tidak akan mengambil pilihan kedua, sama tidak inginnya saya tinggal berlama-lama di negeri ini. Seperti orang Indonesia lainnya, saya masih memiliki kewajiban moral untuk kembali ke tanah air, membangun negeri sendiri untuk bisa menyamai bangsa maju, sekecil apapun kiprah saya. Seperti almuni Attaqwa lainnya, saya juga ingin sharing ilmu yang saya miliki untuk adik-adik di tingkat Tsanawiyah dan Aliyah, sesedikit apapun ilmu yang saya peroleh. I just want to tell them that with the available resources in our pondok, we can do great things, not only to our people, but also to the world. Wallahu A’lam Mahebourg, 23 April 2009

4 comments:

gurindam kewal said...

terima kasih banyak infonya
susah mencari artikel tentang mauritius

gurindam kewal said...

terima kasih banyak infonya
susah mencari artikel tentang mauritius

stephanie dessely said...

ngomong-ngomong ke mauritius harus mempunyai berapa di tabungan minimalnya

Tungau pipis said...

Selamat sore,
Apakah saya perlu mengurus visa turis ke Mauritius ?
Apakah tidak bisa diurus kalo udah tiba di airport ?
Soalnya saya udah mengemail pihak imigrasi , katanya ga usah visa kalo buat turis, tapi kok blog ini harus buat visa ya ? tolong pencerahannya
Terima kasih