Pages

Friday, February 11, 2011

Perbankan Syariah ke Uganda

Dua pejabat Bank Sentral Uganda datang dan mengadakan studi perbandingan di Bank Indonesia tentang bank syariah. Mereka belajar mulai dari kebijakan pengembangan sampai ke perizinan produk. Kebetulan keduanya non-muslim, seperti kebanyakan penduduk Uganda lainnya (84%). Ketika ditanya kenapa kalian ingin mempelajari perbankan syariah yang punya istilah susah diingat? Mereka menjawab simpel, masyarakat kami yang mau. (Waw.....)

Tapi tanpa diduga Uganda rupanya diam-diam sudah mulai melakukan penelitian tentang "Islamic Banking". Bank of Uganda kini tengah menyiapkan draft amandemen undang-undang perbankan, untuk memasukkan Islamic bank kedalam legislasinya. Entah apa motifnya, yang jelas memberikan identitas "Islamic bank" untuk sebuah populasi Muslim yang cuma 17 persen dari total penduduk, tentu bukan tindakan sembarangan. Udah gitu penduduk muslimnya pun nggak seragam. Ada Sunni, Ahmadiyah, Syiah dan Bahai.  Bisa jadi motifnya adalah untuk menjaring dana-dana Timur Tengah yang tengah lari dari Amerika dan Eropa, yang juga tidak semua nyelonong ke Cina dan Asia Tenggara. Mengapa tidak? Singapore saja yang negara cina bisa punya ambisi menjadi pusat keuangan Islam.

Gelombang negara Afrika yang ingin belajar perbankan syariah ke Indonesia mulai terasa. Paling tidak ada 3 rombongan sebelumnya yang sudah sampai Jakarta, bahkan Bandung. Rombongan Kenya dan Tanzania melalui NAM-CSSTC (Non-Aligned Movement- Center for South-South Technical Cooperation) Departemen Luar Negeri  mengadakan pelatihan micro finance di Bandung. Berikutnya Bank of Eriteria yang juga lagi belajar Islamic Banking ke Bank Indonesia. Dan kini Bank of Uganda

Kedua pejabat yang mampir di kantor itu akhirnya bilang, kami puas belajar disini. Karena itu kami akan mengundang kalian untuk ngajar kolega kami di Kampala. (waduh....) Kenapa sih nggak ngundang Bank Negara Malaysia aja, kan mereka lebih pede? "Nggak" kata salah seorang darinya. "Kami menerima lebih banyak ilmu disini daripada ketika kami di BNM. Jadi kami insist  kalian harus datang ke Uganda dan mengajar kami disana....."

Wallahu A'lam

6 comments:

muh rojak said...

Hebat dan Luar Biasa ... Negeri kita dipercaya oleh negara luar untuk studi banding perbankan syariah yang dianggap memiliki reputasi baik dalah segala pengelolaannya. Akan tetapi kenapa saya jadi berfikir terbalik bahwa dinegeri kita yang mayoritas mulsimnya 70 % ini masih cendrung suka dengan bank asing komersial. ini biasa sering saya lihat dari kepemilikan kartu kredit milik sebagian teman saya, hati kecil bertanya apakah motif bank lokal swasta bekerjasama dengan bank asing yang bukan syariah?. Atas jawabannya Terima kasih bng Haji...

Deni Amin Sujana said...

Konon Malaysia dulu banyak belajar dari Indonesia di era nya Soekarno, sekarang malah terbalik banyak dari kita yang belajar kesana.

Jadi jangan sampai nanti kita belajar ke Uganda nih... :)

Anonymous said...

assalamualaikum..
saya ingin menyambung pendapat muh rojak..
dari yg saya dengar dari perkuliahan saya di jurusan perbankan syari'ah&berbagai media, di indonesia promosi & pelayanan perbankan syari'ah hanya gencar di masyarakat menengah keatas, sehingga masih terkesan Perbankan syariah sama saja dengan konvensional hanya berpihak kepada masyarakat menengah keatas saja, perbankan syariah dinegara kita masih terlalu takut untuk meminjamkan dana kepada mereka (masyarakat menengah kebawah) yg tidak mempunyai jaminan yg sesuai dengan pinjaman, Padahal kurang lebih 85% penduduk indonesia berada di sektor UMKM yg notabenya adalah masyarakat menengah kebawah..SANGAT BERBEDA SEKALI DENGAN YANG DILAKUKAN MUHAMMAD YUNUS di bangladesh..beliau sanggup meminjamkan UANG tanpa JAMINAN..dan Hasil nya kita bisa liat sendiri di internet prestasi2 beliau..

udh dulu, kepanjangan ya pak saya koment nya..heee
wassalamualaikum wr.wb

Cecep eM-Ha said...

@ Bung Rojak: Soal kecendrungan masyarakat kita yang masih suka menggunakan bank asing, saya kira banyak faktor yang berpengaruh. Diantaranya masalah pelayanan yang lebih baik. Demikian juga dengan masalah keamanan dana nasabah.
Tapi dengan adanya kasus penggelapan dana di sebuah bank asing baru-baru ini masyarakat bisa melihat bahwa tidak selalu yang namanya asing itu lebih baik dari yang domestik.
Wallahu A'lam

Cecep eM-Ha said...

@ Bung Deni
Semoga saja para pemimpin bangsa ini sadar akan proses ini dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Cecep eM-Ha said...

@ bung tanpa nama (anonymous):
Sepakat bahwa Grameen bank sudah melakukan suatu trobosan yang DIKETAHUI DUNIA, yaitu memberikan kredit tanpa agunan kepada usaha mikro. Tapi yang tidak disebutkan Dunia adalah:
1. tingkat sukubunga pinjaman Grameen bank termasuk yang paling tinggi di dunia (40%), lebih tinggi dari suku bunga BPR di Indonesia (36%)
2. Sudah ada lembaga mikro di dunia Islam yang memberikan pinjaman dengan sukubunga/harga/keuntungan rendah SEBELUM Grameen bank, yaitu koperasi, BMT dan sejenisnya. (saya pribadi menemukan lembaga-lembaga ini sudah tumbuh sejak tahun 1970an di Sudan, Mesir, Jordan, Pakistan dll)
3. Sosialisasi bank syariah untuk orang kaya? Kayaknya nggak deh. Soalnya sekarang yang namanya informasi bisa diakses oleh siapa saja, termasuk orang miskin. Tapi kalau pembiayaan hanya untuk orang kaya saja, mungkin kurang tepat. Yang tepat adalah pembiayaan bank syariah diberikan kepada orang yang punya keterampilan berusaha dan kemampuan pembayaran kembali. Hal ini penting mengingat uang yang disalurkan adalah milik nasabah, bukan milik bank sepenuhnya.
Nah kalau anda diminta untuk meminjamkan pada orang, kira-kira siapa yang anda pilih?
Kata Nabi, "tanyalah hati nuranimu". Maka pasti kita akan jujur dan empati pada orang lain.