Pages

Sunday, July 9, 2017

Halal Bihalal Yang Bikin Baper

Kali ini saya salut pada panitia Halal Bihalal soal ketepatan waktu. Jam 8 udah mulai meskipun hadirin masih beberapa orang saja. Saya yang tiba jam 8 kurang dikit pingin langsung duduk. Tapi karena di undangan panitia ngga ada program ziarah, saya nyelonong duluan ke belah elor. Saya kudu lapor ke Ngkong Kiai Almaghfurlah. Paling tidak, baca hadiah arwah buat beliau. Maklum ngga setiap saat saya bisa kesini.
Balik ke pondok putra tempat acara, di pintu gerbang saya diarahkan ke lapangan parkir sebrang pondok. Wah rupanya tanda VIP yang diberikan panitia ngga ngaruh. Padahal saya tempel di depan kaca mobil. Tapi ngga apa-apa lah. Saya mah apah atuh. Justru yang ngga disangka adalah yang jemput saya dengan hangat di meja tamu ternyata ustaz Masilla Iskan, yang sempat diskusi panas di tulisan saya sebelumnya. Kalau sudah begini persahabatan di abituren ini seperti saudara saja layaknya. (Beliau kakak kelas saya waktu di pondok). Biar panas di tulisan tapi tetap adem di hati. Udah gitu saya yang niat datang diem-diem eh malah diwawancari direktur KBIH Attaqwa Ajie Nung di tengah jalan. Mendadak seleb kata gus Sire.
Keuntungan jadi mantan Ketua IKAA dan alumni yang dianggap sukses adalah selalu disuruh duduk di depan. Bahkan selalu disebut oleh pimpinan Yayasan. Atau berdekatan dengan para VIP, (termasuk Damin Sada, jawara dan mantan lurah Gabus yang rencananya mau haji bareng KBIH Attaqwa. Buat saya hal itu malah jadi siksaan tersendiri. Dengan duduk di depan, saya susah ngobrol sama junior yang juga berprestasi. Padahal mereka umumnya duduk di tengah atau belakang. Syukurlah ada ustaz Adang Ridwana yang bantu komunikasi ke teman-teman kalau kita perlu sesuatu. Juga bang Khairul Ibni, desainer grafis setia untuk bulletin IKAA.
Keuntungan lainnya adalah saya menikmati semua acara dari sambutan sampe hiburan dan door prize. Baru di acara halal Bihalal inilah tema sambutan dan ceramah terasa "gua banget." Mulai dari Ketua IKAA sampe Ketua Yayasan dan AM Fatwa bicara ekonomi ummat. Udah gitu ada door prize yang secara ekonomis jadi daya tarik tersendiri. Selain umroh ada macam-macam hadiah lainnya. Bisa jadi ini pengaruh gerakan 212 dan meleknya ummat tentang penguasaan ekonomi negara oleh segelintir orang dari etnis minoritas. Mudah-mudahan saja berlanjut menjadi gerakan ekonomi antar alumni. Yang sempat bikin kaget adalah ternyata ada persembahan marching band Attaqwa, yang menjuarai lomba marching band se Jawa Barat (ngga ingat pemenang keberapa). Wah keren juga. Jaman saya mondok, pegang gitar aja bisa diserempong. Apalagi pianika dan belira.
Kenyamanan menikmati acara harus terkendala karena sound system hanya ada di depan. Sementara dari belakang suara hadirin ngobrol lumayan keras. Andai sound system ada juga di belakang, mungkin hadirin berkurang ngobrolnya. Saya juga harus undur diri dulu karena guru Coib (Sohib Bakir) memberi isyarat untuk pindah ke tempat lain dimana para anggota kaskus (istilah Gus Sire untuk Tim Konsultan gratis Yayasan, kroni kata guru Nam hahaha) sudah menunggu. Ternyata ada keperluan mendesak untuk bisa ngumpul pasca Silatnas ini. Laporan Tahunan (Neraca dan laporan rugi laba 2016 belum rapih yang mengakibatkan konsekwensi pajak bisa kemana-mana). Banyak lagi yang diomongin, yang membuat kita harus siap menyisihkan waktu untuk pondok tercinta.
Mungkin ngiri atau cemburu dengan adik-adik angkatan yang kompak, group WA angkatan saya juga bunyi plentang plenting. Ternyata isinya pada nanya ngumpul dimana. Sebab diantara mereka ada yang sudah masak dan menyediakan makanan favorit yang ente semua bisa tebak sendiri. Tapi saya menolak. Saya ingin menikmati ramainya para hadirin di silatnas ini, yang berbeda dengan situasi 5-6 tahun sebelumnya.
Ketika mau kembali ke tempat acara ketemulah dengan guru fenomenal kita, guru Nam, di depan Radio Attaqwa. Dia bilang abang ini orang aneh, suka ngritik panitia baik sukses ataupun berantakan. Ngritik juga tapi nyumbang juga. Sambil menyebutkan hadits tentang sedekah yang diringi ejekan. (Yang tentu saja kurang tepat). Katanya nyaris aja panitia jatuh mental setelah baca tulisan abang. Saya bilang saya mohon maaf karena lupa, bahwa generasi Android sekarang gampang baper. Ngga seperti generasi guru Nam atau ustaz Masilla ke atas. Generasi mereka kalau lagi debat bisa sampe gebrak-gebrakan meja. Tapi setelah itu makan nasi goreng Kapud bareng sambil ketawa-ketiwi. Generasi sekarang lebih baper dan suka bikin status curcol. Itu juga yang terjadi pada Silatnas ini. Waktu curcol yang ngeledek itu saya komentari dan buat review jawaban, eh statusnya malah dihapus.
Guru Nam bilang ada kekhawatiran angkatan berikutnya (Al-Asas kalau ngga salah, yang juga terlibat dalam kepanitiaan tahun ini) akan mengalami demoralisasi dengan tulisan itu. Saya berfikir itu hanya dramatisasi gaya guru Nam saja. Pada kenyataannya pintu rumah saya tetap terbuka untuk para rekan alumni baik senior maupun junior, mulai dari sekedar ngopi sampai diskusi serius soal halal bihalal bahkan urusan ummat. Kawan-kawan Marhalah Iltizam yang jadi panitia tahun lalu juga tidak lepas dari kritikan saya, tapi kita tetap akrab dan saya apresiasi kesuksesannya.
Saya ngga bisa nungguin siapa yang dapat door prize umroh. Daftarnya lumayan panjang ,padahal hadiah umroh itu ada di urutan terakhir. Tapi saya masih bisa nikmati alunan gambus Syubbanul Akhyar dengan tarian Darwisnya. Terus terang saya penggemar berat "Whirling Dervishes" ini yang merupakan inovasi tarian Sufi terkenal Jalaluddin Rumi dari Turki. Sayangnya saya harus cepat pergi karena acara yang harus dihadiri juga di tempat lain. Doa saya semoga hiburan gambus agak lebih diterima dan tidak menuai kontroversi lagi.
Sambil nyetir ke arah Jakarta (saya harus hadir di Open House salah satu pimpinan), saya terus terang ketularan baper. Junur saya ngiri lihat panitia begitu kompak, semangat dan tekun, ingin menyukseskan acara ini, dengan bantuan kemajuan teknologi komunikasi dan support dari para senior. Situasi seperti ini susah diperoleh satu atau dua dekade sebelumnya.
Contoh ketinggian dedikasi mereka bisa dilihat dari salah satu panitia, yang juga junior saya di kantor (Ahmad Syaifa Rizal) yang harus terbang dari Surabaya, tempat dia On The Job Training, hanya untuk mensukseskan acara ini.
Melihat perkembangan seperti ini saya tidak pernah kehilangan harapan bahwa abituren Attaqwa tetap memiliki masa depan yang cerah karena kultur kerja keras, keseriusan, kekompakan dan semangat yang tinggi tercermin dalam mensukseskan acara ini. Ini modal utama dalam mencapai kesuksesan.
Akhirnya saya harus ucapkan terima kasih buat Al-Atsya, atas kerja keras mereka mensukseskan Silatnas ini. Juga Marhalah Iltizam, Al-Asas dan angkatan lainnya yang mau dan sudah melaksanakan hal yang sama. Semoga menjadi amal saleh yang diridhai Allah. Amiin
Selamat buat Al-Atsya.
Selamat buat IKAA.
Selamat buat Attaqwa.

No comments: