Pages

Sunday, March 27, 2016

KPR Syariah tidak Syariah?

*Soal KPR Syariah: Berbahaya memfatwakan sesuatu atas dasar ketidaktahuan *

Cecep Maskanul Hakim

Saya mendapat pesan Whatsapp mengenai bermasalahnya KPR syariah menurut menulis dikutip dari pendapat ust Arifin Badri dari majalah pengusaha Muslim no. 24. Menurutnya, KPR Syariah bermasalah secara syariah karena didasarkan atas jual beli dengan klaim musyarakah. Menurut penulis, pada hakikatnya itu adalah pinjaman karena bank tidak boleh melakukan transaksi riil. Karena bank memberikan pinjaman maka tambahannya adalah bunga yang berarti riba.

Monday, March 14, 2016

Bahan Kajian Fatwa Hedging Syariah 2015

Tulisan ini dibuat sebagai pengantar menjelang Sidang Pleno DSN-MUI Desember 2015 tentang Hedging.

KAJIAN BAHAN FATWA HEDGING (TAHAWWUTH)
Kelompok Kerja Perbankan – BPH DSN

Kajian ini disusun untuk memudahkan perumusan fatwa tentang Hedging dalam perbankan syariah dengan memberi gambaran mengenai transaksi yang lazim dilakukan oleh perbankan konvensional.
I.                    PENGERTIAN HEDGING
Hedging adalah melakukan aktifitas untuk tujuan penjagaan nilai investasi/aset. Dalam perbankan hedging dilakukan dengan menukar (swap) pendapatan (sukubunga) dari mengambang (floating) menjadi sukubunga tetap (fixed) – atau sebaliknya. Sedangkan untuk menjaga nilai valuta asing, bank melakukan hedging dengan menjual dan membeli (atau sebaliknya) valuta asing untuk posisi tertentu di masa depan.

Tuesday, October 27, 2015

Ketika Bank Syariah Kehilangan Keunikannya

Entah kenapa setiap orang yang mendengar bank syariah selalu merespon dengan nada kritis. Seolah ada sesuatu dengannya yang membuatnya kurang diterima, apalagi dipercaya. Tidak usah dikata orang yang pernah kecewa dengan pelayanannya. Berbaris kritik akan keluar dari ucapannya seolah bank syariah tidak ada manfaatnya.

Resiko sebuah konsep yang membawa nama besar Islam memang seperti itu. Ia harus serba lebih baik dari yang lain. Tidak terkecuali bank syariah. Ia  dari koleganya sesama bank. Lebih baik dalam pelayanan, lebih murah dalam pembiayaan, lebih menguntungkan dalam simpanan

Berlanjut.....

Thursday, July 2, 2015

Pentingnya Ruh Jihad

Seorang anggota Pengurus Besar (setingkat Pengurus Pusat) Pelajar Islam Indonesia (PII)* bersilaturrahim ke rumah. Dia kebetulan sudah bekerja di sebuah bank syariah yang akhir-akhir ini terkena masalah karena banyaknya fraud, alias tindak penipuan yang dilakukan karyawannya sendiri. Dia heran, koq di bank syariah ada juga fraud seperti ini, sesuatu yang di bank konvensional amat jarang terjadi. 

Ketika Manajemen Perlu Korban

Alkisah pertanyaan manajemen "Tahun ini Makan Siapa" dimulai dengan masuknya teori ilmiah kepada manajemen. Tadinya manajemen itu sebuah seni menarik, seni mengendalikan orang lain untuk mengerjakan yang sebenarnya tanggung jawab si manajer di atasnya. (sich!)

Ketika ilmu statistik memasuki wilayah manajemen dan menentukan promosi karyawan, maka ia bertindak seperti justifikasi ilmiah bagi penentuan seseorang masuk wilayah "rata-rata (average)" atau "sisi spesial kiri dan kanan". Ketika ditentukan dalam sebuah unit tidak boleh ada 2 bintang (star), maka yang lain harus rela mengalah menjadi average alias rata-rata bahkan jadi alasnya (base), Mereka adalah bagian rapuh pada sebuah sebuah distribusi normal. Biasanya dilukiskan dalam grafik seperti tumpukan pasir ke atas. Saat seperti itu, meritokrasi adalah sebuah absurditas kalau bukan isapan jempol dan pemanis bibir para pimpinan unit. Dan yang sering terjadi adalah "teori arisan" alias bergilir.