Beberapa waktu yang lalu saya diundang sebuah organisasi massa (ormas) Islam dan diminta berbicara dalam Rakornas mereka, tentang tantangan ummat Islam kedepan. Saya bertanya, mengapa mereka mengundang saya, mengingat ormas ini memiliki banyak alumni yang relatif punya nama besar di tingkat nasional. Jawab mereka simpel, “mereka sudah partisan semua bang, kami nggak suka. Jangan-jangan mereka nanti malah kampanye.” Maksudnya sebagian besar sudah menjadi tim sukses kandidat pilpres, entah di nomor 1, 2 ataupun 3. Bahkan organisasi formal alumni ormas itupun sudah menyatakan mendukung salah satu calon. Sampai saat ini saya tidak habis mengerti, mengapa orang sering lupa, bahwa yang namanya ormas –secara organisasi- harus netral, sesuai anggaran dasar dan anggaran rumahtangganya. Bahwa pengurusnya kemudian aktif di salah satu partai atau pendukung seorang kandidiat, itu urusan lain. Yang penting sang pengurus tidak aktif disana mengatasnamakan organisasi. Itu adalah etika universal yang sekarang ini dikhawatirkan semakin sering ditabrak.
Tuesday, June 23, 2009
Tuesday, March 31, 2009
KH. Noer Alie: Ulama and development economist
He is KH. Noer Alie, the founder and chairman of Attaqwa (Islamic) Foundation, very famous Islamic scholar in the region (Bekasi), former top member of Masyumi- popular Muslim political party in 1955-1960 and former chairman of Bekasi Regency Government Board (Ind: Dewan Pemerintahan Bekasi) in 1956, who move Bekasi regency capital from Jatinegara to now-Bekasi city.
Sunday, March 22, 2009
Dan hari-hari itu kami gilirkan diantara manusia...
Menjelang hujan sore tadi, dua anak muda pengamen berdiri di depan pagar rumah. Keduanya lalu menyanyikan sebuah lagu yang tengah populer, dengan suara yang cukup keras. Saya tidak ingat baik judul maupun penyanyinya, tapi saya hafal melodinya karena anak saya yang duduk di kelas dua SD pun sering menyanyikannya.
Tuesday, March 10, 2009
Street Vendor and Fiqh Muamalah
A participant in pengajian (religious learning circle) asked a simple, but important, question. What is the relationship between religion and street? God is worshipped in mosque, while people work for their life in the street, market etc. I did not answer the question immediately and ask for one-week postponement. The following week I changed the topic from fiqh ibadah (knowledge related with rites to God) with fiqh muamalah (religous knowledge related with relationship rules among the poople), in which all right and duty of people arise due to their mutual interconnection or transaction. When it came to discussion about right of common people on street (haqqul irtiqaq, haqqul murur, etc), the participant, who asked me the question, said that he never heard any religious teaching such what I told him. (What a pity!)
Thursday, February 26, 2009
Black and White Policy
"We practice politics with principle. If we do not agree (against something) we will say it with its all consequence"
Masyumi, a Muslim political party in 1945-1960 era, is considered as "rigid" political party due to its black-white policy toward different issues in parliament. The above quote is the reply to such mockery, by its chairman, M. Natsir -as quoted by Yusril Ihza Mahendra in "100 Tahun Muhammad Natsir: Berdamai Dengan Sejarah."
Masyumi, a Muslim political party in 1945-1960 era, is considered as "rigid" political party due to its black-white policy toward different issues in parliament. The above quote is the reply to such mockery, by its chairman, M. Natsir -as quoted by Yusril Ihza Mahendra in "100 Tahun Muhammad Natsir: Berdamai Dengan Sejarah."
Subscribe to:
Posts (Atom)
