Seorang anggota Pengurus Besar (setingkat Pengurus Pusat) Pelajar Islam Indonesia (PII)* bersilaturrahim ke rumah. Dia kebetulan sudah bekerja di sebuah bank syariah yang akhir-akhir ini terkena masalah karena banyaknya fraud, alias tindak penipuan yang dilakukan karyawannya sendiri. Dia heran, koq di bank syariah ada juga fraud seperti ini, sesuatu yang di bank konvensional amat jarang terjadi.
Thursday, July 2, 2015
Ketika Manajemen Perlu Korban
Alkisah pertanyaan manajemen "Tahun ini Makan Siapa" dimulai dengan masuknya teori ilmiah kepada manajemen. Tadinya manajemen itu sebuah seni menarik, seni mengendalikan orang lain untuk mengerjakan yang sebenarnya tanggung jawab si manajer di atasnya. (sich!)
Ketika ilmu statistik memasuki wilayah manajemen dan menentukan promosi karyawan, maka ia bertindak seperti justifikasi ilmiah bagi penentuan seseorang masuk wilayah "rata-rata (average)" atau "sisi spesial kiri dan kanan". Ketika ditentukan dalam sebuah unit tidak boleh ada 2 bintang (star), maka yang lain harus rela mengalah menjadi average alias rata-rata bahkan jadi alasnya (base), Mereka adalah bagian rapuh pada sebuah sebuah distribusi normal. Biasanya dilukiskan dalam grafik seperti tumpukan pasir ke atas. Saat seperti itu, meritokrasi adalah sebuah absurditas kalau bukan isapan jempol dan pemanis bibir para pimpinan unit. Dan yang sering terjadi adalah "teori arisan" alias bergilir.
Ketika ilmu statistik memasuki wilayah manajemen dan menentukan promosi karyawan, maka ia bertindak seperti justifikasi ilmiah bagi penentuan seseorang masuk wilayah "rata-rata (average)" atau "sisi spesial kiri dan kanan". Ketika ditentukan dalam sebuah unit tidak boleh ada 2 bintang (star), maka yang lain harus rela mengalah menjadi average alias rata-rata bahkan jadi alasnya (base), Mereka adalah bagian rapuh pada sebuah sebuah distribusi normal. Biasanya dilukiskan dalam grafik seperti tumpukan pasir ke atas. Saat seperti itu, meritokrasi adalah sebuah absurditas kalau bukan isapan jempol dan pemanis bibir para pimpinan unit. Dan yang sering terjadi adalah "teori arisan" alias bergilir.
Monday, December 15, 2014
Sukses? Apanya cing...
Lebaran kali ini (1435 H) benar-benar nikmat. Ketika semua orang mudik ke kampung, saya tinggal di rumah setelah satu hari lebaran ke rumah mertua. Selebihnya membereskan rumah yang masih berantakan akibat pindahan kembali dalam rangka renovasi. Lagipula, kata keponakan, anda sudah jadi anggota KPU (Kumis Penuh Uban) dan dituakan. Makanya sebaiknya di rumah saja dan kami yang datang.
The Problem of Being Low-level Manager
Today an invitation comes to my desk. It is from National Sharia Board (in which I am one of its Executive Committee, also its founding member) who will have its Tenth Annual Meeting on the following days.
National Sharia Board is an autonomous body under Indonesian Council of Ulama that is entrusted with issuing fatwa on Islamic financial product and transaction, and posting Sharia Supervisory Board in Islamic bank.
National Sharia Board is an autonomous body under Indonesian Council of Ulama that is entrusted with issuing fatwa on Islamic financial product and transaction, and posting Sharia Supervisory Board in Islamic bank.
Wednesday, June 4, 2014
Cerita anak Indon di kampus Negeri Jiran
September 2011.
Setelah berjibaku dengan segala prosedur via online dan hard copy, resmilah putri pertama saya diterima dan masuk International Islamic University Malaysia. Di universitas inilah dulu saya dan istri kuliah. Kami gembira, sekaligus wiswas, dengan diterimanya anak itu di kampus -yang lumayan bergengsi di Malaysia itu. Gembira, karena putri kami ikut mengenyam pendidikan yang dwi bahasa (english-Arabic), suasana internasional, dan lingkungan yang lebih Islami (minimal dari kampus2 di tanah air). Tapi kami khawatir juga, soalnya tingkah laku kami dulu waktu kuliah ngga lurus-lurus amat (he..he..). Lambat laun dia pasti tahu sepak terjang kami, ketika masih jadi anak kuliahan.
Setelah berjibaku dengan segala prosedur via online dan hard copy, resmilah putri pertama saya diterima dan masuk International Islamic University Malaysia. Di universitas inilah dulu saya dan istri kuliah. Kami gembira, sekaligus wiswas, dengan diterimanya anak itu di kampus -yang lumayan bergengsi di Malaysia itu. Gembira, karena putri kami ikut mengenyam pendidikan yang dwi bahasa (english-Arabic), suasana internasional, dan lingkungan yang lebih Islami (minimal dari kampus2 di tanah air). Tapi kami khawatir juga, soalnya tingkah laku kami dulu waktu kuliah ngga lurus-lurus amat (he..he..). Lambat laun dia pasti tahu sepak terjang kami, ketika masih jadi anak kuliahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)