Pages

Friday, August 28, 2009

Tahun Baru Islam: Mulai dari Syawwal saja

Tulisan ini adalah hasil diskusi dengan rekan di komuter Bekasi-Jakarta (nama keren dari KRL alias kereta listrik jurusan Bekasi-Kota). Kejadiannya waktu pulang dari kantor, sambil ngabuburit, alias nunggu waktu puasa. Jadi jangan kaget kalau sedikit nyeleneh.

Selama ini tahun baru Islam dimulai dengan Muharram. Yang berinisiatif menetapkannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Ia menghitung awal tahun baru Islam dimulai pada saat Nabi SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Itu sebabnya tahun Islam disebut juga tahun Hijriyyah. Umar juga menggunakan perhitungan bulan, bukan matahari, seperti yang digunakan penguasa Romawi saat itu. Oleh karena itu tahun dengan perhitungan bulan seperti ini disebut juga tahun "Qamariyyah" (dalam bahasa Arab, qamar= bulan).

Thursday, August 27, 2009

Puasa Koq Boros?

Judul di atas adalah judul buku yang ditulis seorang teman di Masyarakat Ekonomi Syariah. Judulnya memang menarik. Yang tergambar dalam pikiran seseorang tentang puasa adalah, jika orang tidak makan dan minum selama seharian, semestinya hemat donk, karena tidak makan, minum dan jajan. Tapi yang terjadi, khususnya di Indonesia, tidak demikian. Belanja rumah tangga justru mengalami peningkatan di bulan puasa. Diantara peningkatan itu, makanan dan minuman mendominasi angkanya. Hal ini tentu bertentangan dengan asumsi yang mengatakan bahwa puasa itu berhemat. Apanya yang salah?

Wednesday, August 19, 2009

Catatan Yang Tertinggal - Perjalanan Ke Mauritius


Ditulis untuk Milis Keluarga Besar-Alumni Attaqwa, Bekasi

Dear Friends,

Terima kasih atas laporan pandangan mata atas prosesi acara Haul Almaghfurlah KH. Noer Alie. Mohon maaf saya tidak bisa ikutan gabung. Kemarin, selama sehari penuh saya harus sport jantung mengurus tiket dan visa ke Mauritius. (Thanks to unlimited access to internet) Karena terlambat mengurus visa, saya harus rela menunggu teman-teman sekretariat IFSB di Kuala Lumpur untuk menguruskannya dalam bentuk on-arrival visa. Visa itu kemudian tiba via email, tepat ketika saya sedang shalat Jumat. Tinggal sekarang tiketnya.

Karena baru diorder untuk diissue pada jam 13.00, dan komputer di Air Mauritius lagi trouble, electronic ticket itu baru saya terima via email, tepat ketika saya sedang shalat maghrib. Setelah ngeprint keduanya, saya ngebut pulang, supaya keburu ngejemput anak yang kursus di LIA Kalimalang. Dan saya tiba disana pas dia keluar dari gedung kursus itu. What a close!


Tuesday, August 4, 2009

Perjalanan Mengikuti Training di Federal Reserve, Washington

Ditulis untuk Milis Keluarga Besar Alumni Attaqwa
(attaqwa-bekasi@yahoogroups.com)

Saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke Amerika. Apalagi setelah peristiwa ledakan di WTC yang sering disebut 9-11 (nine one one). (Saya berangkat Jumat 17 Juli 2009 malam, yang pagi harinya terjadi ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton). Setiap orang dengan nama Arab akan mengalami masalah dengan visa, baik karena penyelidikan yang relatif lama, atau ditolak begitu saja. Tapi entah kenapa saya yang cuma kepala seksi perizinan perbankan syariah ditunjuk untuk ikut training disana. Mungkin, seperti kata sebuah iklan, saya lagi beruntung. Topiknya relevan bagi setiap bankir; Risk Supervision and Internal Control. Tempatnya di Federal Reserve, Washington DC, pusat bank sentral Amerika. (Wuih...)

Tuesday, June 23, 2009

Independensi; Berat dan Mahal

Beberapa waktu yang lalu saya diundang sebuah organisasi massa (ormas) Islam dan diminta berbicara dalam Rakornas mereka, tentang tantangan ummat Islam kedepan. Saya bertanya, mengapa mereka mengundang saya, mengingat ormas ini memiliki banyak alumni yang relatif punya nama besar di tingkat nasional. Jawab mereka simpel, “mereka sudah partisan semua bang, kami nggak suka. Jangan-jangan mereka nanti malah kampanye.” Maksudnya sebagian besar sudah menjadi tim sukses kandidat pilpres, entah di nomor 1, 2 ataupun 3. Bahkan organisasi formal alumni ormas itupun sudah menyatakan mendukung salah satu calon. Sampai saat ini saya tidak habis mengerti, mengapa orang sering lupa, bahwa yang namanya ormas –secara organisasi- harus netral, sesuai anggaran dasar dan anggaran rumahtangganya. Bahwa pengurusnya kemudian aktif di salah satu partai atau pendukung seorang kandidiat, itu urusan lain. Yang penting sang pengurus tidak aktif disana mengatasnamakan organisasi. Itu adalah etika universal yang sekarang ini dikhawatirkan semakin sering ditabrak.