Tulisan 27 Maret 2008
Dear Darso,
Ketika saya jadi sekretaris panitia maulid Attaqwa tahun 1984, saya merasa hal itu menjadi “jalur kaderisasi” Karena sebelumnya, ustaz Nuryadi Asmawi (asal Klender, pernah di Muamalat Institute, sekarang jadi penterjemah di Kabid luar negeri PKS) yang juga sekretaris umum PPA tahun sebelumnya, juga menjadi sekretaris panitia Maulid. Dan menjadi sekretaris panitia maulid yang “massif” seperti di Attaqwa, bukan pekerjaan enteng. Diperlukan ketahanan diri dalam fisik dan mental, terutama jika sudah menjelang hari H nya. Dan ingat, di tahun 1984 yang namanya komputer, apa itu PC apalagi laptop, adalah barang yang belum dikenal. Bisa dibayangkan apabila undangan untuk para VIP salah ketik, urusannya bisa ngetik ulang, sampai pagi….
Dear Darso,
Ketika saya jadi sekretaris panitia maulid Attaqwa tahun 1984, saya merasa hal itu menjadi “jalur kaderisasi” Karena sebelumnya, ustaz Nuryadi Asmawi (asal Klender, pernah di Muamalat Institute, sekarang jadi penterjemah di Kabid luar negeri PKS) yang juga sekretaris umum PPA tahun sebelumnya, juga menjadi sekretaris panitia Maulid. Dan menjadi sekretaris panitia maulid yang “massif” seperti di Attaqwa, bukan pekerjaan enteng. Diperlukan ketahanan diri dalam fisik dan mental, terutama jika sudah menjelang hari H nya. Dan ingat, di tahun 1984 yang namanya komputer, apa itu PC apalagi laptop, adalah barang yang belum dikenal. Bisa dibayangkan apabila undangan untuk para VIP salah ketik, urusannya bisa ngetik ulang, sampai pagi….