Pages

Wednesday, March 26, 2008

In Memoriam: Kamaluddin AM

"Jangan mentang-mentang ente anak kiai, ente jadi raja. Bisa merentah setiap orang. Yang jadi kiai itu bapak ente atau ente? Orang itu dihormati karena kerjanya,amalnya dan kepandaiannya. Bukan karena bapaknya atau kakeknya...." Kamaluddin AM, suatu hari di tahun 1985

Sudah seminggu ini saya tenggelam dalam kesibukan kantor yang amat dahsyat. Tapi alhamdulillah saya sempat takziyah ke Ujungharapan, tempat Ust.Kamaluddin disemayamkan dan akan dishalatkan. Padahal waktu itu saya baru pulang rakor gabungan BI-DSN-perbankan di Karawachi dimana saya termasuk tim asistensi. Saya menyesal tidak dapat ikut menshalatkan janazah beliau karena pulang dari Ujungharapan badan saya langsung demam panas, karena kecapekan.

Ditengah kesibukan yang amat menyita perhatian itu saya sempat menerawang, bahkan bermimpi, kembali mengingat kenangan indah bersama beliau. Saya sempat shock juga karena seminggu sebelum beliau wafat, beliau sudah menjadi bahan pembicaraan koalisi "Timur-Utara Bekasi" (sebutan teman-teman forum diskusi KB PII untuk Cikarang dan Ujungharapan). Kabarnya mereka sudah menggalang kesepakatan untuk mencalonkan beliau sebagai calon alternatif Wakil Bupati apabila pasangan Saleh-Salihin berhasil ditumbangkan sebelum pelantikan DPRD yang baru.

Gagasan calon alternatif muncul dirumah saya ketika teman2 KB PII Cikarang diskusi tentang hasil pemilu. Saya sendiri cenderung pasif dalam diskusi itu dan hanya bertindak menjadi tuan rumah yang baik, selain karena saya nggak suka politik. Tapi jika sudah menyentuh orang-orang yang dekat dengan saya seperti Ustaz kita ini, saya tentu tidak bisa diam. Saya pertanyakan darimana mereka bisa sampai kepada gagasan seperti itu. Mereka bilang, sudah saatnya Bekasi dipimpin oleh seorang ustaz-ilmuwan dan organisator semacam Kamaluddin Marzuki. Kemampuannya berceramah, menulis, sikap kritis dan ilmu manajemennya yang teruji ketika menjadi Ketua Umum PPI Kairo membuatnya cocok untuk peran ini. Saya terdiam, karena serba salah. Apabila saya menyerang mereka, ada kesan saya saya tidak suka Kamal. Apabila saya mendukung, nanti mereka menyangka karena Kamal adalah guru saya. Saya pikir lebih baik mereka sendiri yang bermanuver ketimbang saya dianggap punya ambisi pribadi.

Saya lalu terkenang ketika pertama kali saya kenal Kamal. Suatu malam ketika saya masih kelas III ALiyah, ia memanggil saya dengan satu tugas: mencegah teman-teman dan adik2 santri di pondok agar tidak pergi ke Bekasi, nonton 17 Agustusan. Saya bilang saya tidak yakin, karena ini pertama kali dilakukan. Dia bilang, musti bisa. Bah! Ini orang baru kenal aja udah otoriter begini. Bagaimana kalau ia jadi guru saya? Empat tahun kemudian, ketika saya belajar teori manajemen di Fakultas Ekonomi IIU Islamabad, saya baru tahu bahwa Kamal menggunakan ilmu motivasi untuk membangkitkan kepercayaan diri saya sebagai pengurus untuk mencapai sesuatu.

Kejadian kedua adalah ketika saya menjadi wakil beliau dalam kesekretariatan panita Maulid tahun 1983. Kali ini bukan kekesalan yang muncul, tapi kekagumannya mengkoordinir banyak orang dengan berbagai aktifitas,sehingga kantor Yayasan yang digunakan untuk kepanitiaan bekerja seperti mesin! Tidak ada orang yang nganggur. Semua bekerja dengan skalanya masing-masing. Ada yang mengetik, ada yang menyortir, membuat checklist di whiteboard atau diskusi tentang budget. Waktu kantor ditentukan dari jam 9.00 pagi sampai 22.00 malam. Setiap panitia yang datang ditanya, apakah mau tinggal atau akan pergi. Apabila tinggal, ia harus mengerjakan sesuatu. Apabila ia mau pergi, disarankan agar segera pergi. Kenapa? Ia menjelaskan, apabila orang datang hanya untuk ngobrol, maka yang lain akan ikut ngobrol dan membuat pekerjaan tidak lekas selesai sesuai rencana.

Sore seusai acara maulid, saya duduk di depan kantor yayasan. Dia datang menawarkan imbalan atas kerja keras saya dengan mentraktir di restoran padang di Bekasi. Saya menolak karena kalau di restoran padang mah saya bisa beli sendiri . Saya ingin makan dirumahnya (waktu itu dia belum kawin), dengan makanan idola saya, jengkol semur! Eh, dia setuju. Maka malam itu saya makan dengan lahap di rumah Ngkong Juki (Guru Marzuki, adik KH. Noer Alie, ayah Kamal) bersama beliau dan Tolhatta (teman sekelas, anak Tangerang, jebolan IAIN Banten, sekarang mengajar di Attaqwa Blendung -kalau nggak salah-)

Sejak itu beliau begitu banyak memahami dan mendorong saya untuk jadi orang berguna. Ialah yang berpesan kepada saya untuk tidak bersikap ningrat, meskipun saya anak seorang kiai. Dan pesan itu amat berbekas. Justru karena sikap itulah justru keberadaan saya banyak dihormati orang dimana-mana, di Pakistan, Malaysia bahkan di kalangan perbankan.

Kami sempat berbeda ketika saya menolak untuk bergabung dengan kepengurusan Partai Bulan Bintang (PBB), partai yang ia tinggalkan juga pada akhirnya, karena sikap kritis dan idealismenya. Pada saat ia keluar dari partai itu kami bertemu lagi. Saat itulah ia memuji sikap dan tindakan saya yang konsisten netral. Saya bilang tidak perlu memuji seperti itu. Saya memilih bersikap itu karena pertama, saya pegawai Bank Indonesia yang terlarang jadi pengurus partai, dan kedua saya ketua Yayasan yang secara moral harus berjarak sama dengan para pengurus yang berbeda-beda haluan politiknya.
Terakhir saya bertemu dengan beliau di rumahnya di perumahan Puri Hutama ketika saya bersepeda santai bersama anak saya. Kebetulan rumah saya di Taman Raflesia hanya bersebrangan tembok dengan perumahannya. Ia kelihatan pucat dan letih, tanda bahwa ia telah berusaha menjaga kesehatannya dari grogotan penyakit jantung dan paru-parunya. Tapi ketika bertemu dengan saya, semangatnya muncul lagi dan mengajak saya berdiskusi tentang berbagai hal, mulai dari pemilu, pendidikan, manajemen, keuangan sampai desain rumah dan bumbu makanan. Jika Kak Tina tidak menegur kami, tentu sampai sorepun belum tentu bisa berhenti. Padahal anak saya udah lama kabur dengan sepedanya. Mungkin dia bosan menunggu walidnya yang lagi asyik diskusi dengan "bapak gemuk bewokan di perumahan sebelah ", begitu dia menjelaskan pada umminya tentang postur beliau. Saya masih merasa bahwa tetangga perumahan itu masih hidup dan siap menerima saya untuk berdiskusi berpanjang-panjang. Meskipun secara realita beliau sudah tiada, tapi dorongan dan nasihat, bahkan kritiknya masih terasa di dada saya.
***
Selamat jalan Ustaz.
Kami akan menyusul anda suatu saat. Itu pasti.
Tapi kami harus bisa berkarya dulu, seperti saran anda setiap saat.
Saya tidak mengiringi anda dengan airmata, karena airmata tidak akan pernah bisa menghidupkan anda kembali.
Tapi saya mengantar anda dengan doa dan janji.
Semoga amal ibadah anda diterima Allah SWT dan kesalahan2 anda diampuniNya.
Saya berjanji akan meneruskan karya anda yang terbaik untuk kebaikan dan kemajuan ummat. InsyaAllah...

Wallahu A'lam bissawab

2 comments:

gHina said...

Thank you for the post (your post makes me cry)
Hontouni arigatou gozaimasu.

He is my father, but I realize I really do not know much about what he’s really “done”; also what he’s really meant to people around him. I really don’t know that much.
Doakan kami sebagai anak-anaknya bisa menjadi generasi yang lebih baik. Amiin.

Cecep eM-Ha said...

Thanks mba Ghina
Even I myself have a teary eyes when reading back this writing. I lost him, so much so that no one can replace his position in giving spirit, friendship and togetherness.
May Allah bless him and place him in His best place. And may you all can be his best heir in knowledge and wisdom
Amiin